Wawasan: Aspirasi Rakyat dan Pengawal Kebijakam
Judul : Wawasan: Aspirasi Rakyat dan Pengawal Kebijakam
link : Wawasan: Aspirasi Rakyat dan Pengawal Kebijakam
Wawasan: Aspirasi Rakyat dan Pengawal Kebijakam
Oleh:
Duski Samad
Selamat terbit kepada Surat Kabar Umum Wawasan. Kehadirannya patut diapresiasi sebagai ikhtiar intelektual untuk memperluas horizon berpikir umat dan bangsa. Media bukan sekadar penyampai kabar, melainkan pilar penyangga peradaban, penjaga nalar publik, dan pengawal kebijakan agar tetap berpihak kepada keadilan dan kemaslahatan.
Di tengah banjir informasi, kehadiran media seperti Wawasan menjadi penting untuk menjawab pertanyaan mendasar: bagaimana tetap kritis, objektif, dan jujur di tengah ekosistem informasi yang penuh kebohongan, transaksi, dan manipulasi?
Kritis di Tengah Banjir Hoaks
Sikap kritis hari ini bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban moral. Informasi bohong beredar tanpa kendali melalui media sosial, diperkuat algoritma dan kepentingan politik jangka pendek. Strategi menghadirkan sikap kritis harus dimulai dari etika verifikasi.
Al-Qur’an meletakkan prinsip ini secara tegas: “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah (tabayyun), agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya…”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Tabayyun adalah fondasi jurnalisme bermartabat. Media kritis bukan media yang gaduh, tetapi media yang memeriksa, menimbang, dan menempatkan fakta secara adil. Kritik tanpa verifikasi hanya akan memperluas kekacauan.
Objektivitas di Tengah Atmosfer Transaksi
Pertanyaan yang sering muncul: mungkinkah media objektif di tengah suasana serba transaksi? Jawabannya: mungkin, tetapi mahal dan menuntut keberanian.
Objektivitas bukan berarti netral tanpa nilai, melainkan setia pada kebenaran dan kepentingan publik. Media yang objektif harus berani menjaga jarak dari kekuasaan dan modal yang menekan independensi redaksi. Di sinilah integritas menjadi pembeda antara media sebagai penjaga demokrasi atau sekadar alat propaganda.
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers menegaskan:“Kemerdekaan pers adalah salah satu wujud kedaulatan rakyat dan dijamin sebagai hak asasi warga negara.”
(Pasal 2)
Objektivitas bukan hadiah dari sistem, tetapi buah dari konsistensi etika dan keberanian redaksional.
Kejujuran di Rimba Buzzer dan Tipu Muslihat
Kepercayaan publik hanya lahir dari kejujuran yang berulang. Di era buzzer, framing pesanan, dan disinformasi terorganisir, kejujuran media diuji setiap hari. Media yang jujur tidak menjual ketakutan, tidak memelintir data, dan tidak membungkus kebohongan dengan narasi indah.
Al-Qur’an menuntun media untuk berkata dengan cara terbaik: “Dan katakanlah kepada manusia perkataan yang baik (ahsana qaulan).”(QS. Al-Baqarah: 83)
Ahsana qaulan berarti benar, santun, mencerahkan, dan bertanggung jawab. Media yang jujur mungkin tidak populer sesaat, tetapi dipercaya dalam jangka panjang.
Makna Wawasan
Wawasan bukan sekadar slogan, tetapi kebutuhan mendesak peradaban. Wawasan adalah kemampuan membaca realitas secara utuh—melampaui sensasi, melampaui kepentingan sesaat. Bangsa tanpa wawasan mudah digiring, mudah diadu domba, dan mudah kehilangan arah.
Media berwawasan adalah media yang mendidik publik untuk berpikir, bukan sekadar bereaksi.
Aspirasi Rakyat: Dari Suara ke Kebijakan
Aspirasi rakyat sejatinya bukan hanya keluhan, tetapi hak konstitusional yang harus diartikulasikan dan diperjuangkan. Media berperan sebagai jembatan antara suara rakyat dan pusat kebijakan.
Namun, aspirasi rakyat sering tereduksi oleh demokrasi prosedural dan birokrasi yang dibajak oligarki. Di sinilah fungsi media sebagai pengawal kebijakan menjadi krusial: mengawasi, mengkritisi, dan mengingatkan agar kebijakan tetap berpihak kepada keadilan sosial.
UU Pers menegaskan fungsi ini:“Pers nasional berfungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial.”(UU No. 40 Tahun 1999, Pasal 3 ayat 1)
Menjaga Demokrasi, Menjaga Nurani
Mengawal kebijakan di tengah demokrasi yang rentan dibajak oligarki menuntut media untuk berpihak—bukan pada kekuasaan, tetapi pada nurani publik. Media harus berani bersuara ketika kebijakan menyimpang dari konstitusi, etika, dan keadilan.
Dalam perspektif Islam, amanah informasi adalah tanggung jawab besar. Media bukan sekadar industri, melainkan institusi moral yang kelak dimintai pertanggungjawaban.
Penutup
Wawasan diharapkan menjadi media yang kritis tanpa bising, objektif tanpa transaksional, dan jujur tanpa kompromi. Di tengah zaman yang gaduh, media berwawasan adalah lentera—menerangi, bukan membakar.
Semoga Wawasan menjadi ruang bertumbuhnya aspirasi rakyat dan benteng terakhir akal sehat bangsa.
#ds.26012026.
Sekianlah berita Wawasan: Aspirasi Rakyat dan Pengawal Kebijakam pada kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. Sampai jumpa di postingan artikel berita lainnya.
Anda sekarang membaca artikel berita Wawasan: Aspirasi Rakyat dan Pengawal Kebijakam dengan alamat link https://padosberita.blogspot.com/2026/01/wawasan-aspirasi-rakyat-dan-pengawal.html
.jpg)